Feed on
Posts
Comments

Andaikan kita ada janjian dengan pacar, teman main dan kolega bisnis, ataupun datang suatu seminar, kelas kuliah, ujian, dan meeting di kantor. Jangan sampai telat dan usahakan jadi yang pertama datang.

Jangan telat. Ok, hampir semua orang setuju itu, tapi menjadi yang pertama datang, tunggu dulu. Sebagian orang tidak langsung sependapat. Apa enaknya? Bukankah kita jadi menunggu-nunggu? Menunggu kan tidak enak…. Apa enggak buang-buang waktu jadinya?

Menunggu pasti. Tidak enak? Ehm… bisa diatur. Buang-buang waktu? Mungkin tidak. Di bawah ini beberapa alas an yang patut dipertimbangkan untuk kenapa kita harus jadi yang pertama datang:
1. Datang pertama membuat kita leluasa memilih posisi duduk. Ada yang bilang, posisi adalah prestasi…. Di suatu seminar atau kuliah, kita akan terhindar dari tempat yang terlalu jauh dari pembicara, tempat yang terlalu dekat dengan pengeras suara, atau tempat yang pandagannya terhalang tiang gedung. Tidak menyenangkan juga kalau kebagian kursi yang persis di bawah blower-nya AC.
2. Masih berhubungan dengan posisi, bagi mereka yang janjian untuk kencan tentu jadi punya cukup waktu memilih tempat yang romantis, melihat-lihat menu (kalau di restoran), atau mereka-reka rute jalan mana di yang harus dilalui di taman itu.
3. Dengan datang pertama kita punya waktu cukup untuk mengatur napas (atau nafas?) dan menyiapkan berbagai hal. Apalagi kalau di rapat yang kita hadiri, kita jadi salah satu yang mempresentasikan sesuatu. Gak enak banget kalau masih ngos-ngosan disuruh tampil. Kencan sambil ngos-ngosan juga gak asik, bisa-bisa salah ngomong dan ngerusak suasana. Lebih-lebih pada saat ujian…
4. Datang pertama juga memungkinkan kita memiliki banyak kesempatan berkenalan dengan orang-orang lain yang datang berikutnya. Sambil menunggu, manfaatkan dengan berkenalan. Mendapatkan tambahan banyak teman baru akan sangat menyenangkan.
5. Seringkali juga kita datang ke acara dengan undangan yang culture-nya baru buat kita. Nah… kita jadi bisa belajar dulu, sambil lihat-lihat perilaku orang-orang yang hadir.
6. Tidak ketinggalan, kalau tempat janjian atau acara-nya adalah tempat yang pertama kali kita datangi, ada kesempatan untuk melihat-lihat sekeliling. Mungkin ada sesuatu menarik disitu.

Ah, mungkin masih ada seribu alasan lain. Jadilah yang pertama datang, karena ini akan membantu kita meraih sukses janjian, sukses meeting, dsb dengan berkesempatan menyiapkan diri lebih baik sebelum acara dimulai.

Sukses selalu….

Siapa yang tidak pernah khawatir? Yang pernah jadi mahasiswa pasti merasakan kekhawatiran menjelang ujian. Pada saat wisuda, kembali sebagian khawatir tidak segera memperoleh pekerjaan. Begitu bekerja dan mendengar krisis melanda negeri, rasa khawatir kembali datang.

Khawatir pada dasarnya muncul karena ketidakpastian kejadian di masa depan. Adanya peluang terjadinya sesuatu yang tidak sesuai keinginan, membuat kita merasakan kekhawatiran ini. Semakin banyak hal-hal tidak menyenangkan yang bisa terjadi, semakin tinggi tingkat kekhawatiran kita. Seandainya yang bakal terjadi tidak jauh-jauh dari yang kita inginkan, tentu sedikit saja rasa khawatir itu.

Dapatlah dikatakan bahwa khawatir muncul karena dua hal. Yang pertama adalah karena kita mencoba menebak dan mereka-reka kejadian di masa depan. Dan yang kedua, dalam bayangan kita, muncul kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan.

Menebak dan mereka-reka kejadian masa depan tentu tidak ada salahnya. Bagaimana pun kita harus menyiapkan langkah antisipasi.

Khusus untuk kegiatan menebak ini, ada baiknya kita tengok juga ilmu peramalan secara statistika. Ilmu itu setidaknya mengajarkan beberapa hal:
1. Tebakan tidak selalu benar, bahkan cenderung selalu meleset. Hanya, apakah melesetnya jauh atau dekat.
2. Menebak yang terjadi pada masa yang masih jauh, lebih sulit dari pada menebak yang terjadi satu atau dua hari ke depan.
3. Penggunaan indikator yang tepat akan membuat tebakan kita lebih pas.

Jadi apa?

Kekhawatiran, barangkali cuma kekhawatiran saja. Kejadian buruk yang kita perkirakan bakal terjadi, mungkin saja tidak. Menghabiskan energi dengan memendam rasa khawatir tentu bukan sesuatu yang menyehatkan. Seiring berjalannya waktu, rasa khawatir bisa kita kurangi dengan tetap senantiasa mengupayakan apa yang kita inginkan. Bekerja lebih baik dengan strategi yang sistematis dan dukungan dari lingkungan, perlahan-lahan akan mengikis khawatir yang ada.

Sukses selalu.

Jadilah Orang Aneh

Dulu ada temen yang bilang, “Kalau hidup di dunia hiburan, kalau cakep ya cakep banget sekalian.  Kalau jelek ya jelek banget sekalian.  Jangan nanggung”.  Kalimat itu keluar karena yang nongol di sinetron-sinetron umumnya ada di dua kelompok itu.  Meskipun jangan lupa bahwa cakep-jelek kan juga makhluk Tuhan, dan harus disyukuri.

Seorang ustadz juga pernah bilang “Sembahyanglah seperti besok mau mati, dan kerja-lah seperti gak pernah mati.”  Ini dikutip dari hadits atau apa ya (yang tau tolong bilang ya).

Sudah sifat makhluk hidup, kalau ada yang ekstrim maka jadi perhatian.  Lagi santai2 duduk di warung, tiba-tiba ada suara ledakan di jalan pasti semua menuju ke sumber suara.  Alami deh.  Yang gampang terlihat di kerumunan orang, ya yang paling tinggi, atau yang pakai baju paling mencolok. 

Pokoknya yang berbeda dari yang lain, pasti jadi perhatian.  Tinggal apakah terus jadi perhatian, apa cuma sebentar saja terus ditinggal orang.

Pegawai tentu ingin mendapat perhatian, kalau ingin cepet dapat promosi.  Mahasiswa sekuat tenaga mencuri perhatian si buah hati di kampus.  Caleg… apalagi, sampai pasang berbagai spanduk yang kata orang2 di berbagai milis norak dan kampungan.  Namanya juga cari perhatian….

Perhatian bisa jadi sumber keberhasilan.  Tapi juga bisa jadi sumber kegagalan.  Mendapatkan perhatian tidak sulit, kalau kita menjadi orang aneh, jadi orang unik, lain dari yang lain.

Kalau kita merasa punya keanehan, mari kita kelola dan manfaatkan keanehan itu.  Jadilah terus orang aneh, dan sukses selalu.

Pulang dari kampus, sholat maghrib, makan, sholat isya deh. Sore ini gak mandi. Duingin, tadi siang ujan-ujanan salju. Katrok banget deh… Begitu buka salah satu milis yang aku ikuti, ada teman yang cerita tentang sejarah pekerjaannya. Harapannya bisa diambil hikmahnya oleh para sarjana muda yang baru lulus. Susah ditiru deh, tapi bukan tidak mungkin. Teman ini dulunya aktivis, dan suka pekerjaan-pekerjaan menantang dengan tanggung jawab besar.

Pekerjaan dengan tanggung jawab besar umumnya menawarkan penghasilan atau pendapatan yang besar. Tanggung jawab sering kali juga identik dengan resiko. Biasanya begitu. Kalau ingin dapat yang banyak resiko juga besar. Dalam banyak hal bisa berarti bahwa fluktuasinya lebar. Kalau lagi dapat ya dapat besar… kalau lagi enggak ya enggak saja. Yang mau pendapatan aman dengan besaran tetap setiap bulan, ya umumnya rata-ratanya kecil. Punya usaha/bisnis sendiri lebih menjanjikan memperoleh pendapatan lebih besar. Tapi… resiko juga besar.

Kalau dihubungkan dengan sebaran/distribusi random variable, mirip dengan chi-square. Sebaran ini punya parameter yang disebut degree of freedom. Banyak yang menerjemahkan dengan derajat bebas atau derajat kebebasan. Apa miripnya dengan pendapatan?

Distribusi chi-square dengan derajat bebas sebesar k, memiliki nilai harapan atau rata-rata sebesar k, dan memiliki variance (boleh deh disebut variasi) sebesar 2k.

Kalau kita perhatikan, sebaran ini punya rata-rata dan variasi (boleh juga deh disebut fluktuasi) yang berbanding lurus. Kalau rata-ratanya membesar, ya membesar pula variasinya. Mirip kan..

Yang menarik lagi, rata-rata dan variasi ini berbanding lurus pula dengan derajat bebas. Well…. semakin banyak yang bebas, yang sulit dikendalikan, semakin besar rata-ratanya. Ini terkait tanggung jawab tadi. Orang yang ada pada bagian mengendalikan yang sulit-sulit, yang dapat penghasilan besar.

Jadi kira-kira, jangan segan ambil kerjaan yang sulit dengan tanggung jawab besar…. insya Allah deh…. :D

Sukses selalu….

Mengatur Keuangan

Sekedar berbagi pengalaman hidup dalam mengatur keuangan.  Siapa tahu ada yang punya ide lebih baik.  Barangkali juga tidak banyak hal baru yang saya tulis. 

Saya beruntung, selepas kuliah bisa segera memperoleh pekerjaan dengan penghasilan tetap per bulannya.  Dan lebih beruntung lagi, selain pemasukan yang sifatnya tetap tadi saya juga bisa mencari tambahan penghasilan.  Meskipun demikian, sumber yang kedua ini jumlahnya bervariasi, dan kadang-kadang nol.  Jadi boleh dibilang total pemasukan saya bersifat random.  Kalau ditulis dalam bahasa statistika mungkin begini:

Pemasukan = X + Y

X adalah konstanta dan Y adalah random variable.  Sekali lagi jelas kalau pemasukan saya adalah random variable, yang punya variasi.  Atau dengan kata lain besarannya tidak konstan per bulan. 

Komponen lain yang harus saya lihat dalam mengatur keuangan adalah ‘pengeluaran’.  Dilihat dari sisi manapun, semua orang setuju bahwa pengeluaran ini juga random variable.  Kadang-kadang besar sekali dalam satu bulan karena harus membeli sesuatu yang mahal, kadang-kadang juga sangat rendah karena 20 hari dalam satu bulan ikut acara gratis yang menyediakan makan siang tiap harinya.  Penekanan sekali lagi saya berikan bahwa ‘pengeluaran’ adalah random variable. 

Well, dalam mengatur keuangan kita dihadapkan pada mengelola dua random variable.  Variasi yang kecil akan memudahkan tugas kita dalam mengatur keuangan.  Variasi yang besar akan membuat kita lebih sulit.  Adanya variasi dari kedua aspek ini, maka kadang-kadang terjadi ‘pengeluaran > pemasukan’, atau ‘pemasukan > pengeluaran’. Saya sering mengistilahkan kepada teman-teman, bulan-bulan dimana ‘pemasukan > pengeluaran’ sebagai bulan menabung, dan saat ‘pengeluaran > pemasukan’ sebagai bulan memanen (tabungan). 

Ketika saya masih single, belum menikah, variance dari variabel pengeluaran relatif kecil.  Nilai variance ini semakin besar ketika saya sudah menikah dan punya anak.  Kenapa?  Karena sumbernya jadi bertambah.  Mari kita lihat notasi statistikanya.  Sekarang

Pengeluaran = Pengeluranku + Pengeluaran Istri + Pengeluaran Anak

Dalam ilmu peluang, bisa dituliskan (beberapa disingkat biar pendek)

var(keluar) = var(aku) + var(istri) + var(anak) + covar(aku, istri) + covar(aku, anak) + covar (istri,anak)

Nilai variance selalu positif, dan covariance umumnya juga positif pada kasus ini.  Jelas bahwa variance(pengeluaran) >>> variance(pengeluaranku).  Kalau kita juga memasukkan sumber lain seperti keluarga kita, keluarga istri, tetangga, dan sebagainya, maka variance akan jauh lebih besar lagi. 

Dengan hanya mengandalkan saya sebagai satu-satunya orang yang menghasilkan pemasukan, maka variance pemasukan relatif sama dengan sebelum menikah.  Tapi tentu saja dengan rata-rata yang lebih besar, karena tiap tahun gaji saya naik walaupun tidak terlalu besar. 

Tentu saat ini saya inginnya pada kondisi ‘pemasukan > pengeluaran’.  Kenapa?  Karena saya yakin, suatu saat saya akan mengalami bulan-bulan dimana ‘pengeluaran >> pemasukan’.  Mungkin saat anak saya masuk sekolah, yang makin lama kok ya makin mahal saja.  Mungkin saat saya harus menambah kamar karena anak saya nambah.  Atau mungkin saat kami harus pergi rekreasi ke suatu tempat tanpa sponsor.  Saat dimana ‘pengeluaran >> pemasukan’ pasti akan tiba.   

Bahkan pada saat itu, barangkali sebagian dari asset yang ada harus dijual untuk menutupi kekurangan.  Atau bahkan ‘menambah’ pemasukan dengan bantuan likuiditas dari teman… alias ngutang. 

Singkatnya, bagi saya adalah mengatur kapan saya harus mengusahakan ‘pemasukan > pengeluaran’ untuk menutup saat-saat ‘pengeluaran > pemasukan’.    Orang lain yang hidup dari gaji tetap tanpa pemasukan tambahan menurut saya lebih mudah dibandingkan yang harus saya hadapi.  Karena dia cuma harus mengatur pengeluaran saja.  Sebaliknya, orang yang pemasukan bersumber sepenuhnya dari pekerjaan yang jumlahnya tidak tetap, akan lebih sulit dibandingkan saya.   

Tentu saja ini tidak berlaku bagi mereka yang rata-rata penghasilannya jauh melebihi rata-rata pengeluaran.  Untuk kasus ini sih menurut saya yang paling mudah hidupnya. 

Beberapa hal yang saya pelajari, dari beberapa tahun memiliki penghasilan sendiri selepas kuliah adalah sebagai berikut:

  1. Kenali kapan umumnya ‘bulan menabung’ dan kapan ‘bulan memanen tabungan’.   Ini penting untuk mengatur kapan kita harus menekan pengeluaran atau bekerja lebih.  Sebelum berangkat sekolah lagi, saya termasuk orang yang punya siklus Maret-Agustus sebagai bulan memanen, dan selebihnya bulan menabung.  Tapi sekarang siklus itu berubah, karena sekarang saya hanya punya satu sumber penghasilan.
  2. Ada baiknya kita mencatat atau memiliki daftar pengeluaran, sehingga kita atau persis apakah ada pengeluaran yang bisa kita tekan di bulan-bulan berikutnya.  Atau ada beberapa pengeluaran yang masih bisa kita naikkan.  Jangan tiba-tiba menyalahkan istri ketika pengeluaran membengkak.
  3. Pelajari buku-buku investasi atau sering-seringlah ngobrol dengan teman yang mengerti tentang ini.  Jangan takut dibilang serakah oleh teman ketika dia tahu kita membaca buku ‘Aku Ingin Kaya’ atau buku ‘Muda Kaya, Tua Tambah Kaya’.  Dengan begitu kita akan dapat informasi jenis investasi apa yang tepat bagi kita.  Tidak ada salahnya juga cari informasi mengenai produk tabungan dan asuransi.  Jika perlu konsultasi sama teman yang lebih ahli pada saat memilih produk investasi.
  4. Beberapa orang bilang asset tertentu kadang-kadang menambah besar pengeluaran kita karena pajak, biaya perawatan, dan sebagainya.  Ada baiknya juga dipikirkan.  Tapi bukan berarti harus menjual semua asset yang ada sekarang dan tinggal di kontrakan lagi saja.
  5. Oh ya, kartu kredit.  Lebih hati-hati saja menggunakan.  Jangan sampai hidup kita tiap bulan hanya memikirkan bayar tagihan kartu kredit saja.  Gunakan secara bijak.  Pikirkan mana yang harus dibeli pakai kartu mana yang tidak.  Beberapa kali saya juga menyarankan ke teman yang kecanduan pakai kartu kredit, untuk tidak menaruh kartu kredit (dan debit) di dompet.  Tinggal saja dulu di rumah.  Nanti kalau udah terbiasa, boleh masukkan lagi ke dompet.
  6. Teknik lain yang boleh dicoba: Taruh uang satu lembar 100.000 ribu saja di dompet dan gak ada yang lain.  Biar hemat terus.  Mau naik angkot, pasti gak ada kembalian.  Mau makan somay pinggir jalan juga segan.  Jadinya pulang jalan kaki dan uang utuh.  hehe.

 Wah udah panjang sekali.  Kalau ada ide lain silakan ya…   

Jadilah Dermawan

Saya setuju bahwa apa yang kita peroleh saat ini merupakan buah dari apa yang kita kerjakan selama ini.  Tetapi barangkali ini tidak sepenuhnya benar.  Sebagian dari apa yang kita miliki juga merupakan kontribusi dari orang lain.

Sarjana yang baru saja lulus cum laude dari perguruan tinggi ternama memang harus telah mengorbankan waktu lebih banyak untuk belajar mata kuliah sulit dibandingkan teman sekelasnya, tapi sebagian pemahaman yang dia dapatkan juga berkat diskusi dengan teman lain atau bahkan dia pelajari dari kesalahan teman.  Seorang pedagang di pasar berhasil menjual habis setelah seharian berteriak menjajakan dagangannya, namun mungkin juga karena hari itu teman yang biasa berdagang di sebelahnya sedang absen karena demam.

Seringkali kita tidak ingat bahwa apa yang kita peroleh mungkin karena orang lain.  Tidak seluruhnya karena apa yang kita kerjakan.  Sekali lagi saya sangat setuju bahwa kalau kita tidak melakukan sesuatu, kita tidak mungkin memperoleh yang kita inginkan.  Tetapi, jangan pernah melupakan kontribusi orang lain.  Entah itu disengaja atau tidak, entah itu langsung atau tidak, bahkan entah itu sebenarnya ada atau tidak.

So, ada hak orang lain dari apa yang kita miliki.  Sisihkan sebagian, bagikan kepada orang lain.  Tidak hanya kepemilikan material tapi juga yang non-material.  Kalau kita punya harta, bagikan sebagian kepada orang-orang yang tidak seberuntung kita.  Ada kebahagiaan yang akan kita rasakan ketika kita membagi itu. 

Kalau kita punya ilmu, bagikan dan sampaikan kepada kerabat, rekan kerja, atau bahkan atasan kita.  Jangan takut rekan kita akan lebih pandai dan akan merebut posisi yang kita incar di perusahaan, sehingga tidak kita sampaikan kepadanya bagaimana cara membuat report lebih cepat dan lebih indah.

Jangan pernah merasa sukses kalau Anda masih merasa bahwa berbagi bukan bagian dari hidup Anda.  Jadilah dermawan karena itu tidak akan mengurangi kesuksesan Anda.  Jadilah dermawan karena  kesuksesan Anda juga karena kontribusi orang lain.

Sukses selalu.

Dalam banyak hal, kita dituntut untuk kreatif dan mampu berbuat lebih baik untuk dapat bertahan.  Lebih baik dari apa yang kita kerjakan selama ini dan lebih baik dari apa yang bisa dikerjakan orang lain.  Kita yang bekerja sebagai pengusaha harus selalu dapat mencari cara baru yang untuk memperoleh pelanggan lebih banyak, atau mempertahankan yang ada sekarang, atau membuat yang ada lebih banyak betransaksi dengan kita.  Kita yang hanya karyawan, seringkali juga dituntut lebih efisien bekerja untuk mencapai target penjualan.  Bahkan kadang-kadang kita harus seperti itu untuk bertahan dari gelombang PHK. 

Berbuat lebih baik, bisa jadi adalah lebih cepat prosesnya, lebih murah biayanya, lebih banyak hasilnya.  Tantanglah diri Anda untuk dapat selalu berbuat lebih baik. 

Ciptakan situasi supaya tantangan itu selalu ada, baik dari dalam diri maupun dari lingkungan.  Tantangan tentu saja bisa kita ciptakan, bahkan kita bisa buat tantangan untuk orang lain. 

Saya masih ingat cerita teman saya yang waktu itu bekerja paruh waktu di bagian data entry.  Setiap hari dia mencatat berapa banyak kuesioner yang bisa pindahkan datanya ke dalam file di komputer.  Dan setiap hari, dia menjadi penantang dirinya untuk memecahkan rekor banyaknya kuesioner.  Kadang memang gagal lebih banyak dari kemarin.  Tetapi tantangan untuk berbuat lebih baik dia pelihara.  Kita bisa lihat bagaimana dia menciptakan tantangan melalui catatan itu. 

Apa yang dia lakukan, saya tiru beberapa bulan lalu tatkala mengikuti salah satu pelatihan.  Selama dua minggu terakhir, kami harus mencapai angka tertentu untuk lolos.  Setiap hari, pagi-siang-sore, evaluasi dilakukan.  Cover bagian dalam buku catatan saya berisi perolehan skor saya di setiap hari.  Dengan itu saya menantang diri saya untuk memperoleh grafik yang monoton naik. 

Karena kita tidak bekerja sendirian maka sebagai manager atau pimpinan perusahaan atau organisasi apapun, bahkan rumah tangga, selain menantang diri sendiri  Anda juga harus menantang karyawan, teman, anggota, istri/suami atau anak Anda.  Kalau di beberapa tempat, kita jumpai frame berisi foto seseorang dengan tulisan ‘employee of the month’, itu adalah tantangan bagi para karyawan untuk dapat berbuat lebih dibanding orang yang ada di bingkai tersebut. 

Jadilah penantang bagi diri sendiri supaya kita bisa lebih baik.  Jadilah juga penantang bagi orang lain, supaya orang lain juga ikut lebih baik. 

Sukses selalu.

Jadilah Pemberani

Dalam menjalani hidup, tidak jarang kita merasa takut ketika akan melakukan atau menghadapi sesuatu pertama kali, terutama sendirian.  Saya pun demikian.  Ada rasa takut ketika pertama kali pergi keluar negeri sendirian.  Ada rasa takut ketika harus menyampaikan presentasi di depan direktur untuk pertama kalinya.  Ada rasa takut ketika melangkah masuk kantor klien baru.  Mungkin juga ada rasa takut ketika masuk ke masjid di negara orang di propinsi lain.

Orang yang sudah berpengalaman sekalipun kadang-kadang masih menyimpan ketakutan.  Memulai memang langkah yang paling berat.  Tapi kalau tidak memulai, tidak ada yang kita dapatkan.

 Satu detik mungkin terasa panjang pada saat-saat seperti itu.  Pesawat dengan kecepatan 900 km/jam sepertinya tidak cukup cepat.  Jarum jam di ruangan rapat direksi seperti kehabisan baterai.  Lift di gedung kantor klien juga terasa sangat lambat naik.

Lawan ketakutan itu.  Tumbuhkan rasa berani setinggi mungkin.  Tanpa itu, kita tidak akan pernah melihat negeri orang, direktur di perusahaan tidak akan mengenal siapa kita dan betapa hebatnya kita, target penjualan kita barangkali tidak tercapai karena gagal mendapat klien baru, dan kita akan melewatkan menyaksikan indahnya bagian dalam masjid.

Berani bukan berarti konyol.  Berani butuh modal.  Jangan sungkan bertanya kepada orang yang pernah melakukannya.  Jangan malu bertanya walau hanya sekedar menanyakan ‘Di pesawat dipinjemin selimut gak ya…’.  Jangan ragu-ragu juga untuk membuka situs-situs internet yang relevan.  Tidak salah untuk berlatih presentasi walau di depan cermin atau di hadapan istri sebelum tidur.  Tidak salah juga untuk berlatih mengatakan ‘Selamat siang’ di lift menuju lantai kantor calon klien kita. 

Keberanian harus mendorong kita untuk melakukan itu.  Keberanian harus memacu kita untuk berbuat lebih baik.  Keberanian harus mengalahkan penghalang di hati dan pikiran kita.

Jadilah pemberani.  Berani untuk sukses.  Berani untuk bahagia.

Sukses selalu…

Jadilah Nomor Satu

Tidak sedikit orang yang gak mau jadi orang nomor satu.  ‘Saya cukup segini sajalah…’, ‘Yang penting lulus…’, ‘Kamu sajalah yang ambil…‘ dsb.

Ini bukan ngomongin mau serakah atau tidak bersyukur.  Tapi semangat menjadi nomor satu, penting ada dalam diri kita untuk mencapai kesuksesan.  Kalimat ‘Saya tidak mau jadi nomor dua, saya harus jadi nomor satu’ bukan asli dari saya.  Ini juga saya dapatkan dari teman.  Namanya Haryanto Tanudjaja.  Saya biasa panggil beliau Pak Har, lebih senior dan tentu lebih banyak pengalaman hidup daripada saya.

Kalimat itu selalu beliau tekankan karena sebagai seorang pengusaha, menjadi nomor dua sering tidak menyenangkan.  Bayangkan kalau kita ikut tender proyek tertentu, dan perusahaan kita masuk short list.  Tentu kita gembira mendengarnya. Tapi pada saat final, kita hanya ada pada urutan kedua dan nomor satulah yang ditunjuk sebagai pelaksana proyek.  Nomor dua tidak berarti kita jelek atau tidak mampu, tapi nomor dua berarti kita tidak dapat pekerjaan itu.

Adanya semangat menjadi nomor satu akan mendorong kita untuk senantiasa memperbaiki diri.  Dorongan itu juga akan membuat kita semakin kreatif.  Membuat kita bekerja semakin cepat, semakin baik, semakin murah biayanya.

Keinginan menjadi nomor satu dapat dilatih.  Setidaknya itu menurut saya.  Install pada komputer Anda, games atau permainan yang mencatat rekor atau pencapaian kita.  Windows menyediakan misalnya games ‘minesweeper‘ yang mencatat best-time dari keberhasilan kita menghindari ranjau.  Mainkan dengan perasaan ingin memperbaiki catatan waktunya.  Para penggemar facebook bisa juga melakukannya di berbagai aplikasi yang disediakan.  Bahkan ada kompetisi dengan teman disana.  Mainkan dan tumbuhkan semangan jadi nomor satu.  Kemudian implementasikan semangat tersebut dalam pekerjaan dan hidup sehari-hari, termasuk mencintai keluarga Anda. 

Jadilah nomor satu di keluarga, di RT, di kelurahan, dan dimanapun Anda berada.

 Sukses selalu.

Jadilah Tempat Bertanya

Bukan mau sombong kalau aku menulis tentang ini.  Tetapi hanya sekedar berbagi pemikiran saja, yang barangkali ada gunanya buat kawan2 dimana pun.

Di bidang akademik, prestasiku boleh dibilang jempolan.  Allah SWT memberikan karunia yang begitu besar.  Alhamdulillah.  Mudah-mudahan ini berlanjut sampai nanti, karena sekarang toh aku masih di bangku kuliah.  Barangkali itu kenapa banyak teman, adik kelas, bahkan kakak kelas, sering bertanya tentang hal2 yang menyangkut urusan ilmu yang aku geluti sekarang.  Tentu saja aku senang berdiskusi dengan mereka.

Orang bilang, diskusi tidak akan mengurangi ilmu kita.  Bahkan menambah.  So, jangan pernah takut menularkan ilmu-mu karena tidak akan berkurang sedikit pun.  Bagiku itu jelas benar.  Lewat diskusi, lewat pertanyaan yang mereka ajukan, aku belajar banyak, aku lebih tahu suatu permasalahan, aku juga jadi tahu apa aku benar2 menguasai suatu pengetahuan.  Tentu tidak hanya itu, aku kenal banyak orang, lebih tahu cara berkomunikasi yang baik, pokoknya buaaannnnyyaak.

Tidak kepada satu dua orang kalimat ini aku sampaikan.  Terakhir tadi malam.  “Jadilah tempat bertanya“.  Buat teman-temanmu, bahkan direktur tempat kerjamu, mencarimu kalau mau menanyakan sesuatu.

Beberapa orang menolak dengan mengatakan, ‘otakku gak sebesar otakmu‘.  Ukuran otak mungkin berbeda, tapi potensi tetap sama.  Lagian siapa juga yang sempet ngukur volume otak waktu mau nanya.  Jadi tempat bertanya tidak harus lulus cum-laude, atau dapat nilai matematika 100.

Tidak sedikit pertanyaan yang aku terima, harus aku simpan dulu beberapa jam atau beberapa hari untuk dijawab.  Tidak sedikit juga dalam pertanyaan itu ada istilah atau bahasa yang aku gak tau apa artinya.  Tapi jawaban tetap harus diberikan.  Mengatakan ‘beri saya waktu 2 hari untuk menjawab‘ atau ‘bentar ya, aku baca-baca dulu‘, atau ‘itu tentang apa ya, biar aku cek di internet‘ menurutku lebih baik daripada ‘tanya yang lain saja deh..‘  Tapi ada juga pertanyaan yang terpaksa ditolak.

Keinginan kita untuk menyediakan jawaban dan itu diketahui oleh orang lain, barangkali itu yang dapat membuat kita jadi tempat bertanya.  Aku yakin, kalau mau sukses, kita harus menyediakan waktu untuk menjadi tempat bertanya.

Suatu saat aku pernah diskusi dengan salah seorang kawan tentang hal ini.  Sampai-sampai kami berdebat mana yang lebih dulu.  Pinter dulu, apa jadi tempat bertanya dulu.  Kalau kamu pinter, memang lebih mudah jadi tempat bertanya.  Kalau kamu jadi tempat bertanya, maka kamu akan jadi tambah pinter.  Tapi untuk menjawab perntanyaan yang tidak susah, yang gampang-gampang, aku kira gak perlu modal pinter.

Mulailah jadi tempat bertanya, khusus pertanyaan-pertanyaan yang gak susah.

Sukses selalu…