Sekedar berbagi pengalaman hidup dalam mengatur keuangan. Siapa tahu ada yang punya ide lebih baik. Barangkali juga tidak banyak hal baru yang saya tulis.
Saya beruntung, selepas kuliah bisa segera memperoleh pekerjaan dengan penghasilan tetap per bulannya. Dan lebih beruntung lagi, selain pemasukan yang sifatnya tetap tadi saya juga bisa mencari tambahan penghasilan. Meskipun demikian, sumber yang kedua ini jumlahnya bervariasi, dan kadang-kadang nol. Jadi boleh dibilang total pemasukan saya bersifat random. Kalau ditulis dalam bahasa statistika mungkin begini:
Pemasukan = X + Y
X adalah konstanta dan Y adalah random variable. Sekali lagi jelas kalau pemasukan saya adalah random variable, yang punya variasi. Atau dengan kata lain besarannya tidak konstan per bulan.
Komponen lain yang harus saya lihat dalam mengatur keuangan adalah ‘pengeluaran’. Dilihat dari sisi manapun, semua orang setuju bahwa pengeluaran ini juga random variable. Kadang-kadang besar sekali dalam satu bulan karena harus membeli sesuatu yang mahal, kadang-kadang juga sangat rendah karena 20 hari dalam satu bulan ikut acara gratis yang menyediakan makan siang tiap harinya. Penekanan sekali lagi saya berikan bahwa ‘pengeluaran’ adalah random variable.
Well, dalam mengatur keuangan kita dihadapkan pada mengelola dua random variable. Variasi yang kecil akan memudahkan tugas kita dalam mengatur keuangan. Variasi yang besar akan membuat kita lebih sulit. Adanya variasi dari kedua aspek ini, maka kadang-kadang terjadi ‘pengeluaran > pemasukan’, atau ‘pemasukan > pengeluaran’. Saya sering mengistilahkan kepada teman-teman, bulan-bulan dimana ‘pemasukan > pengeluaran’ sebagai bulan menabung, dan saat ‘pengeluaran > pemasukan’ sebagai bulan memanen (tabungan).
Ketika saya masih single, belum menikah, variance dari variabel pengeluaran relatif kecil. Nilai variance ini semakin besar ketika saya sudah menikah dan punya anak. Kenapa? Karena sumbernya jadi bertambah. Mari kita lihat notasi statistikanya. Sekarang
Pengeluaran = Pengeluranku + Pengeluaran Istri + Pengeluaran Anak
Dalam ilmu peluang, bisa dituliskan (beberapa disingkat biar pendek)
var(keluar) = var(aku) + var(istri) + var(anak) + covar(aku, istri) + covar(aku, anak) + covar (istri,anak)
Nilai variance selalu positif, dan covariance umumnya juga positif pada kasus ini. Jelas bahwa variance(pengeluaran) >>> variance(pengeluaranku). Kalau kita juga memasukkan sumber lain seperti keluarga kita, keluarga istri, tetangga, dan sebagainya, maka variance akan jauh lebih besar lagi.
Dengan hanya mengandalkan saya sebagai satu-satunya orang yang menghasilkan pemasukan, maka variance pemasukan relatif sama dengan sebelum menikah. Tapi tentu saja dengan rata-rata yang lebih besar, karena tiap tahun gaji saya naik walaupun tidak terlalu besar.
Tentu saat ini saya inginnya pada kondisi ‘pemasukan > pengeluaran’. Kenapa? Karena saya yakin, suatu saat saya akan mengalami bulan-bulan dimana ‘pengeluaran >> pemasukan’. Mungkin saat anak saya masuk sekolah, yang makin lama kok ya makin mahal saja. Mungkin saat saya harus menambah kamar karena anak saya nambah. Atau mungkin saat kami harus pergi rekreasi ke suatu tempat tanpa sponsor. Saat dimana ‘pengeluaran >> pemasukan’ pasti akan tiba.
Bahkan pada saat itu, barangkali sebagian dari asset yang ada harus dijual untuk menutupi kekurangan. Atau bahkan ‘menambah’ pemasukan dengan bantuan likuiditas dari teman… alias ngutang.
Singkatnya, bagi saya adalah mengatur kapan saya harus mengusahakan ‘pemasukan > pengeluaran’ untuk menutup saat-saat ‘pengeluaran > pemasukan’. Orang lain yang hidup dari gaji tetap tanpa pemasukan tambahan menurut saya lebih mudah dibandingkan yang harus saya hadapi. Karena dia cuma harus mengatur pengeluaran saja. Sebaliknya, orang yang pemasukan bersumber sepenuhnya dari pekerjaan yang jumlahnya tidak tetap, akan lebih sulit dibandingkan saya.
Tentu saja ini tidak berlaku bagi mereka yang rata-rata penghasilannya jauh melebihi rata-rata pengeluaran. Untuk kasus ini sih menurut saya yang paling mudah hidupnya.
Beberapa hal yang saya pelajari, dari beberapa tahun memiliki penghasilan sendiri selepas kuliah adalah sebagai berikut:
- Kenali kapan umumnya ‘bulan menabung’ dan kapan ‘bulan memanen tabungan’. Ini penting untuk mengatur kapan kita harus menekan pengeluaran atau bekerja lebih. Sebelum berangkat sekolah lagi, saya termasuk orang yang punya siklus Maret-Agustus sebagai bulan memanen, dan selebihnya bulan menabung. Tapi sekarang siklus itu berubah, karena sekarang saya hanya punya satu sumber penghasilan.
- Ada baiknya kita mencatat atau memiliki daftar pengeluaran, sehingga kita atau persis apakah ada pengeluaran yang bisa kita tekan di bulan-bulan berikutnya. Atau ada beberapa pengeluaran yang masih bisa kita naikkan. Jangan tiba-tiba menyalahkan istri ketika pengeluaran membengkak.
- Pelajari buku-buku investasi atau sering-seringlah ngobrol dengan teman yang mengerti tentang ini. Jangan takut dibilang serakah oleh teman ketika dia tahu kita membaca buku ‘Aku Ingin Kaya’ atau buku ‘Muda Kaya, Tua Tambah Kaya’. Dengan begitu kita akan dapat informasi jenis investasi apa yang tepat bagi kita. Tidak ada salahnya juga cari informasi mengenai produk tabungan dan asuransi. Jika perlu konsultasi sama teman yang lebih ahli pada saat memilih produk investasi.
- Beberapa orang bilang asset tertentu kadang-kadang menambah besar pengeluaran kita karena pajak, biaya perawatan, dan sebagainya. Ada baiknya juga dipikirkan. Tapi bukan berarti harus menjual semua asset yang ada sekarang dan tinggal di kontrakan lagi saja.
- Oh ya, kartu kredit. Lebih hati-hati saja menggunakan. Jangan sampai hidup kita tiap bulan hanya memikirkan bayar tagihan kartu kredit saja. Gunakan secara bijak. Pikirkan mana yang harus dibeli pakai kartu mana yang tidak. Beberapa kali saya juga menyarankan ke teman yang kecanduan pakai kartu kredit, untuk tidak menaruh kartu kredit (dan debit) di dompet. Tinggal saja dulu di rumah. Nanti kalau udah terbiasa, boleh masukkan lagi ke dompet.
- Teknik lain yang boleh dicoba: Taruh uang satu lembar 100.000 ribu saja di dompet dan gak ada yang lain. Biar hemat terus. Mau naik angkot, pasti gak ada kembalian. Mau makan somay pinggir jalan juga segan. Jadinya pulang jalan kaki dan uang utuh. hehe.
Wah udah panjang sekali. Kalau ada ide lain silakan ya…